Rangkaian Resonansi Paralel: Pengertian, Cara Kerja dan Analisis RLC Paralel - Edukasi Elektronika | Electronics Engineering Solution and Education

Monday, 17 August 2026

Rangkaian Resonansi Paralel: Pengertian, Cara Kerja dan Analisis RLC Paralel

Rangkaian resonansi paralel merupakan rangkaian RLC yang terdiri dari resistor, induktor, dan kapasitor yang dihubungkan secara paralel. Resonansi terjadi ketika arus reaktif induktif dan arus reaktif kapasitif saling meniadakan pada frekuensi tertentu.

Memahami Resonansi pada Rangkaian RLC Paralel

Secara prinsip, resonansi paralel memiliki kemiripan dengan resonansi pada rangkaian RLC seri yang telah dibahas sebelumnya. Resonansi pada rangkaian RLC paralel terjadi ketika efek reaktif dari induktor dan kapasitor saling menetralkan. Dalam kondisi tersebut, rangkaian secara keseluruhan akan bersifat resistif murni. Rangkaian RLC paralel terdiri dari tiga komponen utama, yaitu resistor (R), induktor (L), dan kapasitor (C) yang semuanya terhubung secara paralel. Karena terdapat dua komponen reaktif, yaitu induktor dan kapasitor, karakteristik rangkaian sangat dipengaruhi oleh perubahan frekuensi sumber AC.

  

Hal yang membedakan rangkaian resonansi paralel dengan rangkaian seri adalah pengaruh arus yang mengalir pada masing-masing cabang paralel. Pada kondisi tertentu, terutama pada rangkaian tangki LC paralel, arus yang bersirkulasi di antara induktor dan kapasitor dapat memiliki nilai yang sangat besar meskipun arus yang berasal dari sumber relatif kecil. Rangkaian tangki atau tank circuit pada dasarnya merupakan kombinasi paralel antara induktor (L) dan kapasitor (C). Rangkaian ini banyak digunakan pada LC oscillator dan berbagai rangkaian elektronika untuk memilih atau menolak frekuensi AC tertentu.

Rangkaian RLC Paralel Dasar

Sebelum membahas lebih jauh mengenai resonansi, kita perlu memahami terlebih dahulu karakteristik dasar dari rangkaian RLC paralel. Rangkaian ini memiliki resistor, induktor, dan kapasitor yang terhubung pada dua titik yang sama sehingga setiap komponen memperoleh tegangan sumber yang sama.

Rangkaian paralel yang terdiri dari resistansi R, induktansi L, dan kapasitansi C akan mengalami resonansi paralel, yang juga dikenal sebagai anti-resonansi, ketika arus total yang dihasilkan oleh kombinasi paralel berada dalam kondisi in-phase terhadap tegangan sumber. Dengan kata lain, pada frekuensi resonansi, komponen arus yang bersifat induktif dan kapasitif akan saling mengimbangi. Akibatnya, bagian reaktif dari arus total menjadi nol dan rangkaian bertindak seperti beban resistif.

Penyimpanan Energi pada Rangkaian Tangki LC

Ketika rangkaian berada pada kondisi resonansi, terjadi arus sirkulasi yang besar antara induktor dan kapasitor akibat proses pertukaran energi secara terus-menerus. Oleh karena itu, rangkaian resonansi paralel sering dikaitkan dengan resonansi arus. Hal ini berarti arus yang ditarik dari sumber dapat tetap rendah, sementara arus yang mengalir secara individual melalui cabang induktor dan kapasitor dapat memiliki nilai yang jauh lebih besar. Pada rangkaian resonansi paralel, energi disimpan secara bergantian dalam dua bentuk, yaitu:

- Medan magnet pada induktor (L).

- Medan listrik pada kapasitor (C).

Energi tersebut terus berpindah bolak-balik antara induktor dan kapasitor selama proses osilasi. Pertukaran energi inilah yang menyebabkan arus reaktif dari kedua komponen saling berlawanan. Nilai sesaat dari arus induktor (IL) dan arus kapasitor (IC) pada kondisi resonansi memiliki besar yang sama tetapi arah yang berlawanan. Oleh karena itu, kontribusi keduanya terhadap arus yang ditarik dari sumber akan saling meniadakan.

 

Arus dari sumber kemudian merupakan hasil penjumlahan vektor antara arus induktor, arus kapasitor, dan arus yang mengalir melalui resistor (IR). Dalam menganalisis rangkaian resonansi paralel AC, tegangan sumber menjadi referensi karena tegangan yang diberikan pada setiap cabang paralel memiliki nilai yang sama. Masing-masing cabang kemudian dianalisis secara terpisah untuk menentukan arus yang mengalir di dalamnya. Total arus yang ditarik dari sumber merupakan penjumlahan vektor dari arus pada setiap cabang paralel.

 

Secara umum, terdapat dua pendekatan yang dapat digunakan untuk menganalisis rangkaian resonansi paralel. Pertama, menghitung arus pada setiap cabang kemudian menjumlahkannya. Kedua, menghitung admitansi masing-masing cabang untuk memperoleh admitansi total dan selanjutnya menentukan arus rangkaian.

Kondisi Resonansi pada Rangkaian Paralel

Seperti yang telah dibahas pada rangkaian resonansi seri, kondisi resonansi tercapai ketika reaktansi induktif dan reaktansi kapasitif memiliki nilai yang sama. Pada kondisi tersebut berlaku:

 

XL = XC


Ketika kedua reaktansi tersebut sama, efek induktif dan kapasitif akan saling meniadakan. Pada rangkaian paralel, kondisi ini dapat dianalisis menggunakan konsep admittance (Y).

Mendefinisikan Admitansi Paralel (Y)

Penurunan Rumus Reaktansi Paralel

Resonansi terjadi ketika XL = XC, sehingga bagian imajiner dari admitansi total (Y) menjadi nol.

Kemudian:

Menariknya, kondisi resonansi pada rangkaian paralel menghasilkan persamaan frekuensi resonansi yang pada dasarnya sama dengan rangkaian resonansi seri. Dengan demikian, prinsip dasar penentuan frekuensi resonansi tetap berkaitan dengan kesamaan antara reaktansi induktif dan kapasitif. Namun, karakteristik rangkaian ketika mencapai resonansi berbeda antara konfigurasi seri dan paralel. 

 

Pada kondisi resonansi, rangkaian tangki LC paralel bertindak seperti rangkaian terbuka terhadap sumber. Arus yang berasal dari sumber terutama ditentukan oleh resistor yang terdapat dalam rangkaian. Dengan demikian, impedansi total rangkaian resonansi paralel pada kondisi resonansi menjadi sangat besar dan karakteristiknya dipengaruhi oleh nilai resistansi AC rangkaian. Pada kondisi ideal, hubungan tersebut dapat dinyatakan sebagai:

 

Z = R 


Efek Resonansi Paralel


Pada saat resonansi, impedansi rangkaian paralel mencapai nilai maksimum. Nilai tersebut berkaitan dengan resistansi rangkaian sehingga rangkaian memiliki karakteristik resistansi tinggi dan arus sumber yang rendah. Selain itu, ketika resonansi tercapai, impedansi rangkaian secara efektif hanya bersifat resistif. Akibatnya, total arus rangkaian (I) berada dalam kondisi in-phase dengan tegangan sumber (VS).

 

Respons frekuensi rangkaian resonansi paralel dapat diubah dengan menyesuaikan nilai resistansi. Perubahan nilai R akan memengaruhi jumlah arus yang mengalir melalui rangkaian ketika resonansi terjadi, dengan asumsi nilai induktansi (L) dan kapasitansi (C) tetap. Oleh karena itu, impedansi maksimum yang muncul pada kondisi resonansi sering disebut sebagai impedansi dinamis (dynamic impedance) rangkaian.

Impedansi pada Rangkaian Resonansi Paralel

Ketika impedansi rangkaian paralel mencapai nilai maksimum pada frekuensi resonansi, maka admitansi rangkaian akan berada pada nilai minimum. Salah satu karakteristik penting dari rangkaian resonansi paralel adalah nilai admitansinya yang sangat rendah pada kondisi resonansi. Kondisi tersebut menyebabkan arus yang ditarik dari sumber menjadi terbatas. Karakteristik ini berbeda dengan rangkaian resonansi seri. Pada rangkaian resonansi paralel, resistor dapat memberikan efek redaman terhadap bandwidth rangkaian. 

 

Semakin besar efek redaman, semakin rendah tingkat selektivitas rangkaian terhadap frekuensi tertentu. Karena arus rangkaian bergantung pada nilai impedansi (Z), perubahan impedansi akibat perubahan frekuensi juga akan memengaruhi tegangan dan respons keseluruhan rangkaian.Pada rangkaian paralel, tegangan pada setiap komponen memiliki nilai yang sama dengan tegangan sumber. Oleh sebab itu, bentuk gelombang tegangan pada rangkaian umumnya dapat diamati pada kapasitor atau pada titik-titik paralel rangkaian.

Kerentanan (Susceptance) pada Frekuensi Resonansi

Pada frekuensi resonansi (Æ’r), admitansi rangkaian berada pada titik minimum. Pada kondisi tersebut, admitansi total sama dengan nilai konduktansi (G) karena bagian imajinernya, yaitu susceptance (B), bernilai nol. Nilai konduktansi dapat dinyatakan sebagai:

 

G = 1/R 

 

Pada rangkaian resonansi paralel, susceptance total menjadi nol karena susceptance induktif (BL) dan susceptance kapasitif (BC) memiliki nilai yang sama tetapi berlawanan.

Kerentanan pada Resonansi

Pada grafik karakteristik susceptance, susceptance induktif (BL) berbanding terbalik dengan frekuensi. Karena hubungan tersebut, kurvanya berbentuk seperti kurva hiperbolik. Sebaliknya, susceptance kapasitif (BC) berbanding lurus dengan frekuensi sehingga karakteristiknya dapat digambarkan sebagai garis lurus yang meningkat seiring bertambahnya frekuensi. Kurva terakhir menunjukkan total susceptance rangkaian resonansi paralel terhadap frekuensi. Nilai total susceptance tersebut merupakan selisih antara susceptance induktif dan susceptance kapasitif.

 

Dari grafik tersebut dapat diketahui bahwa pada frekuensi resonansi, kurva total susceptance akan memotong sumbu horizontal. Titik tersebut menunjukkan bahwa total susceptance rangkaian bernilai nol. Di bawah frekuensi resonansi, susceptance induktif lebih dominan sehingga rangkaian memiliki karakteristik faktor daya lagging. Sebaliknya, ketika frekuensi berada di atas frekuensi resonansi, susceptance kapasitif menjadi lebih dominan sehingga rangkaian menghasilkan faktor daya leading.

 

Dengan demikian, pada frekuensi resonansi (Æ’r), arus yang ditarik dari sumber berada dalam kondisi sefase dengan tegangan yang diberikan. Hal ini terjadi karena efek reaktif induktif dan kapasitif saling meniadakan sehingga secara efektif rangkaian hanya menunjukkan karakteristik resistif. Akibatnya, faktor daya rangkaian menjadi satu, atau:

 

θ = 0° 


Selain itu, karena impedansi rangkaian paralel berubah terhadap frekuensi, impedansi tersebut dapat dikatakan bersifat dinamis. Pada kondisi resonansi, arus dan tegangan menjadi sefase karena impedansi rangkaian bertindak seperti resistansi. Dengan demikian, impedansi rangkaian paralel pada frekuensi resonansi memiliki nilai yang setara dengan resistansi rangkaian. Nilai tersebut kemudian menjadi impedansi dinamis maksimum (Zd) dari rangkaian.

Arus pada Rangkaian Resonansi Paralel

Pada frekuensi resonansi, total susceptance bernilai nol sehingga admitansi rangkaian berada pada titik minimum dan nilainya sama dengan konduktansi (G). Oleh karena itu, arus yang ditarik dari sumber pada kondisi resonansi juga berada pada nilai minimum. Hal tersebut terjadi karena arus yang mengalir melalui cabang induktif dan kapasitif memiliki besar yang sama, tetapi arahnya berlawanan. Kondisi ini dapat dinyatakan sebagai:

 

IL = IC 


Kedua arus tersebut memiliki perbedaan fase sebesar 180°, sehingga secara efektif saling meniadakan. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, total arus pada rangkaian RLC paralel merupakan penjumlahan vektor dari arus yang mengalir pada masing-masing cabang. Untuk frekuensi tertentu, total arus dapat dihitung menggunakan persamaan berikut:

Ketika rangkaian berada pada kondisi resonansi, arus induktif (IL) dan arus kapasitif (IC) memiliki nilai yang sama sehingga keduanya saling membatalkan. Akibatnya, arus reaktif bersih menjadi nol. Dengan demikian, pada kondisi resonansi persamaan total arus dapat disederhanakan menjadi:

Arus yang mengalir pada rangkaian resonansi paralel dapat ditentukan dari perbandingan antara tegangan sumber dan impedansi rangkaian. Pada frekuensi resonansi, impedansi (Z) mencapai nilai maksimumnya, yaitu sebesar nilai resistansi rangkaian (R). Oleh karena itu, arus rangkaian pada frekuensi resonansi akan berada pada nilai minimumnya, yaitu:

Jika hubungan antara arus dan frekuensi digambarkan dalam sebuah grafik, karakteristik tersebut akan menunjukkan pola seperti berikut:

Arus Rangkaian Paralel pada Resonansi

Kurva respons frekuensi pada rangkaian resonansi paralel menunjukkan bahwa besar arus merupakan fungsi dari frekuensi. Pada frekuensi rendah, arus rangkaian berada pada nilai yang relatif tinggi. Ketika frekuensi mendekati frekuensi resonansi, arus akan semakin menurun hingga mencapai nilai minimum pada frekuensi resonansi. Setelah melewati frekuensi resonansi, arus kembali meningkat dan pada frekuensi yang semakin tinggi akan mendekati nilai maksimum. 

 

Dengan demikian, karakteristik arus terhadap frekuensi pada rangkaian resonansi paralel memiliki bentuk yang berlawanan dengan karakteristik rangkaian resonansi seri. Hal menarik lainnya adalah arus yang mengalir melalui induktor (L) dan kapasitor (C) dapat memiliki nilai yang jauh lebih besar dibandingkan arus yang ditarik dari sumber. Kondisi ini bahkan dapat terjadi ketika rangkaian berada pada frekuensi resonansi. Meskipun demikian, arus induktif dan kapasitif memiliki besar yang sama tetapi berbeda fase sebesar 180°. Karena itu, kedua arus tersebut secara efektif saling meniadakan ketika dilihat dari sisi sumber.

Rangkaian Resonansi Paralel sebagai Rangkaian Penolak

Karena karakteristiknya yang memiliki impedansi sangat tinggi pada frekuensi resonansi, rangkaian resonansi paralel juga dikenal sebagai rangkaian penolak (rejector circuit). Pada frekuensi resonansi, impedansi rangkaian mencapai nilai maksimum sehingga arus yang memiliki frekuensi sama dengan frekuensi resonansi akan ditekan atau ditolak oleh rangkaian. Karakteristik tersebut membuat rangkaian resonansi paralel banyak digunakan ketika diperlukan suatu rangkaian yang mampu memilih atau menolak frekuensi tertentu. 

 

Efek resonansi yang terjadi pada rangkaian paralel juga dikenal sebagai current resonance atau resonansi arus. Istilah ini digunakan karena karakteristik utama rangkaian berkaitan dengan arus yang bersirkulasi di antara induktor dan kapasitor.

Perbandingan Rangkaian Resonansi Seri dan Paralel

Perhitungan dan grafik yang digunakan untuk menganalisis rangkaian resonansi paralel memiliki beberapa kemiripan dengan rangkaian resonansi seri. Keduanya sama-sama menggunakan konsep frekuensi resonansi, reaktansi, impedansi, bandwidth, dan faktor kualitas (Q factor). Namun, karakteristik keduanya justru memiliki perbedaan yang berlawanan.

 

Pada rangkaian resonansi seri, impedansi mencapai nilai minimum pada frekuensi resonansi sehingga arus rangkaian mencapai nilai maksimum. Sebaliknya, pada rangkaian resonansi paralel, impedansi mencapai nilai maksimum pada frekuensi resonansi sehingga arus yang ditarik dari sumber mencapai nilai minimum. Karena karakteristiknya yang berlawanan tersebut, rangkaian resonansi paralel juga sering disebut sebagai rangkaian anti-resonansi (anti-resonant circuit).

Bandwidth dan Selektivitas Rangkaian Resonansi Paralel

Bandwidth rangkaian resonansi paralel pada dasarnya didefinisikan dengan cara yang sama seperti pada rangkaian resonansi seri. Bandwidth ditentukan berdasarkan perbedaan antara frekuensi cut-off atas dan frekuensi cut-off bawah. Kedua frekuensi tersebut masing-masing dapat dinyatakan sebagai Æ’upper dan Æ’lower. Kedua titik tersebut dikenal sebagai frekuensi setengah daya (half-power frequencies).

 

Pada frekuensi Æ’upper dan Æ’lower, daya yang dilepaskan oleh rangkaian menjadi setengah dari daya maksimum yang terjadi pada frekuensi resonansi. Dengan kata lain, titik tersebut merupakan titik -3 dB dari respons rangkaian. Pada titik -3 dB, nilai arus berada pada sekitar 70,7% dari nilai arus resonansi, sehingga dapat dinyatakan sebagai:

 

I = 0,707 × Ires 


Dengan demikian, bandwidth rangkaian resonansi paralel dapat ditentukan dari selisih antara frekuensi cut-off atas dan frekuensi cut-off bawah.

Bandwidth Resonansi Paralel RLC

Seperti halnya pada rangkaian resonansi seri, faktor kualitas (Q) memiliki pengaruh yang besar terhadap bandwidth. Jika frekuensi resonansi dipertahankan tetap, peningkatan nilai Q factor akan menyebabkan bandwidth menjadi semakin sempit. Sebaliknya, penurunan faktor kualitas akan menghasilkan bandwidth yang lebih lebar. 

 

Artinya, rangkaian dengan Q factor tinggi memiliki selektivitas yang lebih baik karena mampu memilih rentang frekuensi yang lebih sempit di sekitar frekuensi resonansi. Selain faktor Q, perubahan perbandingan antara induktor (L) dan kapasitor (C) maupun perubahan nilai resistansi (R) juga dapat memengaruhi bandwidth dan respons frekuensi rangkaian, meskipun frekuensi resonansi yang diinginkan dapat dipertahankan. Prinsip tersebut banyak dimanfaatkan dalam tuning circuit, khususnya pada perangkat komunikasi seperti pemancar dan penerima radio serta televisi.

Mendefinisikan Faktor Q pada Rangkaian Resonansi Paralel

Faktor Q (Q factor) atau selektivitas merupakan salah satu parameter penting untuk mengetahui seberapa tajam respons resonansi suatu rangkaian.

Pada rangkaian resonansi paralel, faktor Q umumnya didefinisikan sebagai perbandingan antara arus yang bersirkulasi pada cabang resonansi dengan arus yang ditarik dari sumber. Persamaannya dapat dituliskan sebagai:

Nilai Q yang semakin tinggi menunjukkan bahwa rangkaian memiliki selektivitas yang semakin tinggi. Dengan kata lain, rangkaian akan semakin mampu merespons frekuensi yang berada sangat dekat dengan frekuensi resonansinya dan menolak frekuensi yang berada di luar rentang tersebut. Perlu diperhatikan bahwa faktor Q pada rangkaian resonansi paralel memiliki bentuk yang berlawanan dengan faktor Q pada rangkaian resonansi seri.

 

Pada rangkaian resonansi seri, faktor Q berkaitan dengan pembesaran atau magnification tegangan pada komponen reaktif. Sedangkan pada rangkaian resonansi paralel, faktor Q berkaitan dengan pembesaran arus yang bersirkulasi pada cabang induktor dan kapasitor. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa:

- Rangkaian resonansi seri → faktor Q berhubungan dengan voltage magnification.

- Rangkaian resonansi paralel → faktor Q berhubungan dengan current magnification.

Karakteristik inilah yang membuat rangkaian resonansi paralel sangat berguna dalam berbagai aplikasi seleksi frekuensi, filter, tuning circuit, dan rangkaian komunikasi.

Grafik Bandwidth Rangkaian Resonansi Paralel

Grafik bandwidth pada rangkaian resonansi paralel menunjukkan hubungan antara arus rangkaian dan frekuensi. Berbeda dengan rangkaian resonansi seri, rangkaian paralel memiliki arus minimum pada frekuensi resonansi karena impedansinya mencapai nilai maksimum. Bandwidth rangkaian ditentukan oleh dua titik frekuensi, yaitu frekuensi cut-off bawah (Æ’L) dan frekuensi cut-off atas (Æ’H). Kedua titik tersebut merupakan titik -3 dB atau titik setengah daya dari respons resonansi. Semakin tinggi faktor kualitas (Q), semakin sempit bandwidth yang dihasilkan. Kondisi ini menunjukkan bahwa rangkaian memiliki selektivitas yang lebih tinggi terhadap frekuensi tertentu.

Contoh Perhitungan Rangkaian Resonansi Paralel

Contoh 1: Analisis Rangkaian Resonansi Paralel

Sebuah jaringan resonansi paralel terdiri dari resistor sebesar 60 Ω, kapasitor sebesar 120 μF, dan induktor sebesar 200 mH. Rangkaian tersebut dihubungkan dengan sumber tegangan sinusoidal yang memiliki tegangan puncak konstan sebesar 100 volt pada seluruh rentang frekuensi. Berdasarkan nilai komponen tersebut, tentukan:

- Frekuensi resonansi

- Faktor kualitas (Q)

- Bandwidth rangkaian

- Arus rangkaian pada kondisi resonansi

- Pembesaran arus (current magnification)


1. Menentukan Frekuensi Resonansi (Æ’r)

Frekuensi resonansi merupakan frekuensi ketika reaktansi induktif dan reaktansi kapasitif memiliki nilai yang sama. Frekuensi ini dapat dihitung menggunakan nilai induktansi dan kapasitansi rangkaian.

Berdasarkan perhitungan tersebut, diperoleh nilai frekuensi resonansi (Æ’r) dari rangkaian.

2. Menentukan Reaktansi Induktif pada Resonansi (XL)

Setelah frekuensi resonansi diketahui, langkah berikutnya adalah menentukan reaktansi induktif (XL) pada frekuensi tersebut.

Nilai reaktansi induktif ini nantinya digunakan untuk menentukan faktor kualitas rangkaian dan pembesaran arus pada kondisi resonansi.

3. Menentukan Faktor Kualitas Rangkaian (Q)

Faktor kualitas (Q) menunjukkan tingkat selektivitas rangkaian terhadap frekuensi resonansi. Semakin besar nilai Q, semakin sempit bandwidth dan semakin tajam respons resonansi yang dihasilkan. Untuk rangkaian resonansi paralel, faktor kualitas dapat dihitung menggunakan persamaan berikut:

Dari hasil perhitungan tersebut dapat diketahui nilai Q factor rangkaian.

4. Menentukan Bandwidth Rangkaian (BW)

Setelah faktor kualitas diketahui, bandwidth (BW) rangkaian dapat ditentukan. Bandwidth menunjukkan rentang frekuensi yang berada di antara frekuensi cut-off bawah dan frekuensi cut-off atas.

Nilai bandwidth tersebut menunjukkan lebar rentang frekuensi yang dilewati atau dipengaruhi oleh karakteristik resonansi rangkaian.

5. Menentukan Frekuensi Atas dan Bawah -3 dB (Æ’H dan Æ’L)

Titik -3 dB merupakan batas bandwidth rangkaian. Pada titik ini, daya rangkaian telah turun menjadi setengah dari daya maksimumnya. Frekuensi cut-off atas (Æ’H) dan frekuensi cut-off bawah (Æ’L) dapat ditentukan menggunakan persamaan berikut:

Dengan mengetahui nilai Æ’H dan Æ’L, kita dapat menentukan rentang frekuensi kerja rangkaian di sekitar frekuensi resonansi.

6. Menentukan Arus Rangkaian pada Resonansi (IT)

Pada kondisi resonansi, impedansi dinamis rangkaian mencapai nilai maksimumnya dan nilainya sama dengan resistansi rangkaian. Karena resistor yang digunakan memiliki nilai 60 Ω, maka impedansi rangkaian pada resonansi dapat dinyatakan sebagai:

 

Z = R


Arus total rangkaian pada kondisi resonansi kemudian dapat dihitung menggunakan hubungan antara tegangan dan impedansi.

Dari hasil tersebut dapat diketahui bahwa arus yang ditarik dari sumber berada pada nilai minimum ketika rangkaian mencapai kondisi resonansi.

7. Menentukan Pembesaran Arus (Imag)

Salah satu karakteristik penting dari rangkaian resonansi paralel adalah adanya arus sirkulasi yang cukup besar di dalam rangkaian tangki LC. Meskipun arus yang ditarik dari sumber relatif kecil, arus yang mengalir melalui induktor dan kapasitor dapat memiliki nilai yang jauh lebih besar. Perbandingan antara arus cabang resonansi dan arus yang berasal dari sumber disebut pembesaran arus (current magnification).

Berdasarkan hasil perhitungan, dapat diketahui bahwa arus yang ditarik dari sumber pada kondisi resonansi, yaitu arus resistif, hanya sekitar 1,67 A. Sedangkan arus yang bersirkulasi pada rangkaian tangki LC memiliki nilai yang lebih besar, yaitu sekitar 2,45 A. Nilai tersebut dapat diverifikasi dengan menghitung arus yang mengalir melalui induktor atau kapasitor pada kondisi resonansi.

Hasil ini menunjukkan salah satu karakteristik utama rangkaian resonansi paralel, yaitu arus yang bersirkulasi di antara induktor dan kapasitor dapat lebih besar daripada arus yang ditarik dari sumber. Meskipun demikian, kedua arus reaktif tersebut memiliki arah yang berlawanan sehingga kontribusinya terhadap arus total dari sumber saling meniadakan pada kondisi resonansi.

 

Baca juga: Rangkaian Resonansi Seri: Pengertian, Prinsip Kerja dan Frekuensi Resonansi

 

 

 

 

 

 

 

Siap Untuk Membuat Proyek Impianmu Menjadi Kenyataan?

Klik di sini untuk chat langsung via WhatsApp dan dapatkan dukungan langsung dari tim ahli kami!

 

No comments:

Post a Comment